Langsung ke konten utama

Postingan

Membaca Gejala “Mediatisasi” Politik di Indonesia

            Oleh: Noveri Faikar Urfan Abstract Mediatization is to be considered a process oriented of high modernity in which the media become as an independent institution with a logic of its own that other social institution accommodate to, especially politics. In the past, the media is located at the subordinat place behind the politics, because the process of communication is centralized by political institution, in particular by political party, so the media has dominated by political logic. But now, after the media take a large proliferation, the media become omnipresent, logic of the media is widespread to any other social institution, so that in some degree politics has to be accomadate the media logic to their own self. The logic of the media refers to the function of media as the “medium”, and constructing symbolic resource. Keywords : mediatization, mediatization as the process oriented, media logic, media...

Mengenal Lebih Dalam Si Bapak Sosiologi

Judul Buku:  Emile Durkheim, Riwayat, Pemikiran,  dan Warisan Bapak Sosiologi Modern Penulis : Hanneman Samuel Penerbit : Kepik Ungu, Depok Tahun: April, 2010 Tebal: 120 halaman Emile Durkheim dikenal luas sebagai bapak sosiologi modern. Terlepas dari berbagai kritik yang dialamatkan pada pemikirannya, Emile Durkheim tetap harus dihargai karena kegigihannya untuk melepaskan sosiologi dari pengaruh filsafat dan psikologi, mendorongnya menjadi ilmu yang mandiri.            Durkheim lahir di Epinal, Prancis, 15 April 1858, dari keluarga Yahudi yang taat. Dia tergolong orang yang cukup pintar, kepandaiannya itu dibuktikan setelah dia mampu masuk di Ecole Normale de Superieure, sebuah sekolah tinggi terkemuka yang terkenal mencetak para ilmuwan besar di Prancis. Di sana Durkheim bertemu dengan para pemikir besar dalam berbagai disiplin ilmu, seperti Pierre Janet, Jean Jaures, dan Henry Bergson.       ...

Televisi, Anak, dan Urgensi Literasi Media

Bicara tentang konten siaran televisi bagi anak-anak, agaknya kita selalu kesulitan  memberi batasan dan argumentasi yang jelas tentang seperti apa sesungguhnya tayangan yang layak ditonton oleh anak-anak. Tokoh kartun Sinchan misalnya, ia seusia anak, Nobita dalam kartun Doraemon juga anak-anak. Akan tetapi, tidak cukup fair jika adanya representasi fisik ‘anak’ dalam tontonan di televisi, kemudian digeneralisir sebagai tayangan bagi anak-anak.             Keresahannya nyata. Jika kita saksikan di televisi, anak seperti Sinchan bertingkah genit tak ubahnya kelakuan orang dewasa, apakah anda masih mengira tayangan itu pantas ditonton oleh putra-putri anda yang usianya kurang dari 9 tahun?. Belum lagi jika dalam film kartun yang lain, ada konten-konten yang menjurus pada tindak kekerasan atau perkelahian. Celakanya lagi, acara semacam itu (kartun anak) tampil pada jam-jam ketika anak-anak sedang tidak di sekolah, sore hari ...